Skip to main content

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Guru yang Tidak Tahu: Pendidikan yang Mengemansipasi Versi Jacques Rancière

 

Mengajar dan mendidik adalah dua konsep yang bisa dibedakan. Terence W. Moore dalam bukunya yang berjudul Philosophy of Education menuliskan bahwa pendidikan adalah konsep yang melibatkan kegiatan mengajar yang lebih spesifik pada apa yang layak untuk diketahui dan sikap yang secara moral diterima (Moore, 2010: 33). Mengacu pada pengertian Moore tersebut, kita bisa saja menjadi guru yang mengajarkan cara untuk mencopet, misalnya, tetapi hal demikian bukanlah sesuatu yang mendidik. 

Pengertian pendidikan sebagaimana dituliskan oleh Moore tersebut dapat dikritisi. Menurut siapa sesuatu itu layak diketahui? Dari sudut pandang siapa suatu sikap dapat dikatakan bermoral atau tidak? Tanpa perlu menjawabnya, kita dapat melihat bahwa Moore secara tidak langsung telah menempatkan guru atau pengajar dalam posisi “si paling tahu” - yang memutuskan mana ilmu yang layak diketahui dan mana sikap yang dianggap bermoral. 

Pandangan Moore menjadi pandangan yang cukup umum dalam dunia pendidikan. Aliran perenialisme adalah salah satu perwujudan dari pandangan tentang “guru sebagai si tahu segala” yang berprinsip bahwa materi yang diajarkan pada murid-murid haruslah bersumber pada kanon / sumber klasik. Kanon yang dimaksud ini ada pada buku-buku seperti Iliad (karya Homer), The History (Herodotus), The Republic (Plato), The Discourses (Epictetus), dan seterusnya hingga karya-karya Dostoevsky, James, dan Freud. 

Poinnya, perenialisme menekankan bahwa dalam kanon-kanon tersebut, sudah dimuat ilmu-ilmu yang layak diketahui, sekaligus panduan moral yang terbukti dapat diandalkan. Dengan demikian, perenialisme tidak bisa diajarkan oleh “sembarang guru”. Mesti guru yang spesial, yang bisa memahami kanon dengan baik saja yang dipandang layak untuk memberikan pendidikan. 

 

Cara pandang perenialisme tersebut mendapat berbagai kritikan. Progresivisme misalnya, beranggapan bahwa kanon-kanon tersebut bukannya tak diperlukan, tetapi hal yang lebih pokok adalah mengajarkan murid-murid dengan kemampuan yang lebih relevan dengan kemajuan zaman. Urusan digital marketing, sebagai contoh, apakah dapat ditemukan solusinya dalam Iliad, Critique of Pure Reason, atau The Brothers Karamazov? Kritik progresivisme tersebut pelan-pelan menggeser arah pendidikan dari yang mulanya bersumber pada “guru sebagai si paling tahu” menjadi berbasis kebutuhan murid. Murid adalah masa depan sehingga mereka mesti dibekali oleh kemampuan-kemampuan yang dapat menunjang kehidupannya nanti. Murid-murid tidak hidup di masa lalu, bergumul dengan kanon-kanon! 

Kritik lebih keras datang dari Paulo Freire dengan pandangan pedagogi kritis yang berangkat dari problem pendidikan di Amerika Latin, tepatnya di Brasil. Gaya pendidikan yang serba bersumber dari guru ini disebutnya sebagai “pendidikan gaya bank” (banking education). Murid, dengan demikian, ditempatkan seperti “celengan” yang pasif, menunggu dimasuki oleh ilmu-ilmu yang dianggap baik dan benar oleh gurunya. Pedagogi kritis menawarkan moda dialog dalam kegiatan belajar – mengajar. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator yang memancing murid-muridnya untuk berpikir lebih kritis, terutama terhadap situasi sosial di sekitar. Guru dalam versi Freire mesti senantiasa “memprovokasi” keingintahuan murid dan bahkan tak pernah takut jika ditanya “kenapa” untuk konsep yang paling mendasar sekalipun – dalam pendidikan gaya bank, kata Freire, guru lebih sering membagikan ilmu tanpa tahu “kenapa”. 

Namun gaya Freire tersebut belum cukup radikal bagi pemikir post-Marxis asal Prancis, Jacques Rancière. Dalam bukunya yang berjudul The Ignorant Schoolmaster (1987), Rancière mengambil contoh dari seorang guru di Prancis pada awal abad ke-19 yang bernama Joseph Jacotot. Pada tahun 1818, Jacotot ditugaskan untuk mengajar bahasa Prancis di Universitas Louvain, Belgia. Dengan menggunakan buku Les Aventures de Télémaque karangan François Fénelon, Jacotot membuat anak-anak mampu belajar bahasa Prancis tanpa perlu banyak-banyak diberi penjelasan oleh dirinya selaku guru. Hal yang dilakukan oleh Jacotot adalah mendorong murid-muridnya untuk membaca Télémaque perlahan-lahan dari mulai per huruf, per kata, per kalimat, per paragraf, hingga mampu menganalisis makna dan membaca keseluruhan cerita. Di tengah-tengah proses tersebut, Jacotot juga mengajak murid-muridnya untuk mendiskusikan apa yang mereka lihat dan rasakan. 

Hal menarik dari gaya Jacotot tersebut, sebagaimana ditekankan oleh Rancière – dan cukup membedakan dari Freire – adalah titik berangkatnya bahwa semua orang memiliki kapasitas intelektual yang setara. Kesetaraan adalah titik mula dan bukanlah tujuan akhir. Rancière kerap mengkritisi cara pandang Marxis yang menjadikan ketidaksetaraan sebagai poin awal, sehingga hal yang dilakukan oleh para pemikir Marxis pada akhirnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh guru-guru kanonik dalam perenialisme: menempatkan dirinya sebagai “si paling sadar” yang bertugas “menyadarkan” murid-murid. 

Asumsi demikian ditolak oleh Rancière yang berpandangan bahwa penjelasan (explication) justru menegaskan posisi guru yang lebih superior terhadap murid. Alih-alih mengemansipasi, guru yang melakukan penjelasan, bagi Rancière, akan mematikan semangat anak didiknya. Bahkan lebih radikal lagi, Rancière menyarankan guru-guru untuk tidak saja mengajarkan materi yang mereka kuasai, melainkan justru yang mereka tidak kuasai – seperti Jacotot yang mengajarkan piano dan melukis. Untuk apa? Supaya murid-murid semakin tersadarkan akan kesetaraan ini. Bahwa guru-guru pun sama seperti mereka, ikut belajar. 

Poinnya, bagi Rancière, murid-murid diajak untuk menemukan gairah dan keinginan dalam melakukan eksplorasi. Guru tidak lagi perlu untuk menjelaskan panjang lebar, tetapi guru dalam hal ini berperan untuk memastikan semangat pada muridnya terus menyala. Semangat tersebut, sebagaimana ditekankan Rancière, bukan berasal dari dikte-dikte yang membosankan dari pengajar, melainkan keyakinan penuh bahwa setiap orang secara intelektual adalah setara dan mampu memberikan instruksi bagi dirinya sendiri. Saat semangat tersebut senantiasa berkobar, maka disitulah, bagi Rancière, terjadi emansipasi. 

 

Pertanyaannya, apakah gaya Rancière itu mungkin diterapkan secara luas? Konteks murid-murid yang diajarkan oleh Jacotot dan Freire bisa jadi sangat berbeda. Jacotot mengajarkan murid-murid di Belgia, sementara Freire di Brasil, yang secara kondisi struktural sudah sangat timpang. Mungkin mudah saja bagi Jacotot membiarkan murid-murid di Louvain untuk membaca Télémaque dan mengembangkan pikirannya sendiri. Namun apakah bisa dengan mudah diterapkan pada murid-murid di negara berkembang yang bahkan tidak semua orang bisa membaca? 

Rancière sebenarnya tetap berkeyakinan bahwa hal tersebut adalah mungkin. Setia dengan pandangannya terhadap kesetaraan, Rancière yakin percaya murid-murid yang tidak bisa membaca pun mampu memahami Télémaque meski harus diawali dari instruksi serta pertanyaan dari gurunya. Tanpa harus bisa membaca, setiap murid, lanjut Rancière, mestinya bisa memikirkan dan merasakan apa yang diceritakan dalam Télémaque

Barangkali gaya Rancière dalam The Ignorant Schoolmaster ini tidak perlu dijadikan suatu metode yang bisa diterapkan secara umum. Masih terdapat pelajaran-pelajaran yang memerlukan penjelasan dari guru, yang malah jika penjelasannya baik, bisa menimbulkan semangat dalam diri murid-murid sebagaimana dijadikan tujuan dalam pedagogi versi Rancière. Meski demikian, The Ignorant Schoolmaster tetap memberikan sumbangsih penting dalam “desakralisasi” peran guru yang selama ini seolah memiliki tanggung jawab moral untuk tidak hanya membuat murid-muridnya jadi baik dan berpengetahuan, tapi juga mengemban tugas aktivisme untuk membuat para pembelajar menjadi sadar. Rancière, sebaliknya, menyingkirkan beban-beban tersebut dan menempatkan guru malah sebagai “orang yang tidak tahu” demi menjadikan murid teremansipasi untuk dirinya sendiri.  

Sumber bacaan 

  • Freire, P. (2017). Pedagogy of the Oppressed. Penguin Classics. 
  • Moore, T. W. (2010). Philosophy of Education (International Library of the Philosophy of Education Volume 14): An Introduction. Routledge. 
  • Rancière, J. (1991). The Ignorant Schoolmaster: Five Lessons in Intellectual Emancipation. Stanford University Press. Stanford, CA.

Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip