Skip to main content

Lokasi Kebahagiaan

  Cari-cari film di Netflix, akhirnya jatuh pada Expedition Happiness . Dari posternya pun sudah agak-agak terbayang, bahwa film dokumenter ini kemungkinan mirip-mirip dengan Into the Wild (kisah petualangan menuju alam bebas, lepas dari rutinitas yang menjemukan). Ternyata meski punya kemiripan tema, Mogli dan Felix, pasangan yang melakukan perjalanan dalam Expedition Happiness , lebih santai dan masih mau bersosialisasi ketimbang Christopher McCandless dalam Into the Wild yang berupaya untuk jauh-jauh dari manusia. Expedition Happiness masih menunjukkan banyak sisi kemanusiaan dan juga kehewanan, sementara McCandless lebih menikmati hidup menyendiri.  Mogli dan Felix adalah pasangan asal Jerman. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Amerika Utara menuju Amerika Selatan, dimulai dari Kanada, Alaska, melewati beberapa negara di AS, Meksiko, dan rencananya hingga Argentina. Mereka berangkat bertiga bersama seekor anjing bernama Rudi menggunakan bis sekolah yang dimodifika

30hari30film: The Boat That Rocked (2009)


9 Ramadhan 1433 H


Meski tidak sukses secara komersil, film The Boat That Rocked punya penggemarnya sendiri terutama di kalangan penggemar musik tahun 60-an –yang terkenal dengan generasi bunga-. Film yang disutradarai Richard Curtis ini mendapat kritikan karena durasinya yang terlalu panjang (135 menit). The Boat That Rocked diputar ulang di Amerika Serikat dengan perubahan judul menjadi Pirate Radio dan pemotongan durasi menjadi 112 menit.

Film ini berkisah tentang kehidupan penyiaran radio yang “ilegal”. Ilegal karena frekuensi Radio Rock tidak terdaftar dan diakui oleh pemerintahan Inggris. Meski demikian, radio yang disiarkan dari kapal di tengah North Sea ini digemari oleh mayoritas kaum muda di Inggris karena memutar lagu-lagu pop dan rock yang tengah tren. Di pembukaan film sudah disajikan titik permasalahannya mengapa Radio Rock mesti ada, karena: Radio pemerintah hanya memutar musik pop 45 menit dalam sehari!

Film ini cukup dominan dalam mengontraskan kehidupan awak Radio Rock yang penuh kegembiraan di atas kapal dilatari musik-musik psikedelik, dengan kehidupan jajaran pemerintah Inggris yang membosankan dan penuh protokol. Konflik terjadi karena PM Inggris Sir Alistair Dormandy (Kenneth Branagh) tidak suka dengan keberadaan mereka yang dicapnya sebagai, “Perusak generasi muda.” Meski pada waktu itu tidak melanggar hukum, namun Sir Alistair bersama dengan bawahannya, Twatt (Jack Davenport) tetap mengupayakan bagaimana caranya agar hukum bisa disesuaikan sehingga Radio Rock masuk kategori pelanggaran.

Seisi awak Radio Rock sendiri tidak ambil pusing dengan ketar ketir pemerintah. Mereka tetap bersiaran 24 jam dengan para DJ yang begitu dicintai pendengarnya. Mereka adalah The Count (Philip Seymour Hoffmann), Dave (Nick Frost), Mark (Tom Wisdom), Simon Swafford (Chris O’Dowd), Angus “The Nut” Nutsford (Rhys Darby), John Mayford (Will Adamsdale), dan yang paling legendaris, Gavin Kavanagh (Rhys Ifans). Kehidupan mereka begitu dinamis dan kekeluargaan. Konflik-konflik kadang terjadi misalnya Gavin Kavanagh yang terlalu karismatik sehingga bisa merebut istri dari Simon yang baru dinikahinya tujuh belas jam. Namun apa yang dialami oleh para kru Radio Rock setidaknya mengartikulasikan semangat rock pada masa itu: Asyik, santai, bergairah, cinta damai, dan penuh kebersamaan.

Film ini agaknya bisa menjadi sangat menarik tapi juga bisa tidak. Menarik adalah bagi mereka yang memahami sekaligus mencintai musik-musik psikedelik di era 60-an. Namun bagi yang tidak, film ini rasanya tidak punya suatu muatan spesial di dalamnya. Meski pesan terpentingnya bukanlah sebatas musik, melainkan suatu gerakan di luar sistem yang seringkali diperlukan untuk membongkar kemapanan. Buktinya? Setelah Radio Rock bubar, dalam narasi disebutkan: Pop dan rock diputar di radio Inggris 24 jam per hari.

Rekomendasi : Bintang Tiga

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1