Skip to main content

Kekalahan

Sedang ramai play-off NBA. Tim-tim saling menyingkirkan. Kekalahan tentu sesuatu yang tidak diinginkan oleh tim manapun, tetapi kita bisa bayangkan: kekalahan adalah sekaligus bentuk kelegaan. Para pemain dari tim yang kalah bisa pulang ke rumah lebih cepat dan menonton sisa musim sambil bersantai bersama keluarga. Mereka tak perlu lagi datang setiap hari ke tempat latihan dengan suasana tegang menghadapi pertandingan demi pertandingan. Para pemain bisa rileks dan bahkan bisa makan sesuka hati karena tak ada lagi pertandingan untuk dua sampai empat bulan mendatang.  Kekalahan adalah istilah yang mengacu pada permainan tertentu yang disepakati. Sebuah tim kalah main basket jika skornya berada di bawah tim lawan. Seseorang kalah dalam konteks sekolahan jika tidak lulus ujian atau menempati ranking terbawah. Partai manapun disebut kalah dalam kontestasi politik jika tidak meraih suara yang cukup untuk mengirimkan wakilnya ke parlemen. Kekalahan berlaku untuk suatu permainan, tetapi belum

30hari30film: The Buddha: The Story of Siddhartha (2010)


8 Ramadhan 1433 H




The Buddha: The Story of Siddhartha adalah film dokumenter garapan David Grubin yang dinarasikan oleh Richard Gere. Berdurasi 112 menit, film ini berkisah tentang perjalanan hidup Siddhartha Gautama mulai dari lahir, remaja, menikah, pergi dari istana, mencari jatidiri, tercerahkan di pohon Boddhi, mendapatkan murid, hingga hari kematiannya. Film ini tidak membosankan karena sutradara sanggup meramu antara narasi; pengakuan dari berbagai orang seperti Dalai Lama, Mark Epstein, William Stanley, Nick Offerman serta beberapa bhiksu Buddha; latar masyarakat India dan Nepal; serta animasi yang menarik.

Film dimulai dengan narasi Richard Gere mengenai kelahiran Siddhartha sekitar 2500 tahun silam di perbatasan India dan Nepal. Sebelum melahirkan, sang ibu mendapatkan mimpi yang aneh berkaitan dengan seekor gajah putih. Menurut juru tafsir mimpi, itu artinya sang ibu akan mempunyai anak lelaki yang kelak menjadi seorang pemimpin besar atau ahli spiritual. Sang ayah, yang ingin Siddhartha menjadi pemimpin besar, “menyekapnya” di dalam istana. Ia dilarang keluar agar tidak menyaksikan pahitnya dunia. Namun di suatu hari, ia keluar bersama kusir kuda dan mengalami empat penglihatan yaitu: orang tua, orang sakit, orang mati, dan orang yang hidup bertapa. Keseluruhan penglihatan itu membuat dirinya memutuskan untuk meninggalkan istana dan hidup tanpa wisma. Merujuk pada juru tafsir mimpi tadi, Siddhartha mengambil jalan menjadi ahli spiritual.

Buddha atau sering diartikan sebagai “Yang Terbangun”, digambarkan dalam film dokumenter ini dengan cukup lengkap. Fakta sejarah dan mitos tentangnya diceritakan secara komprehensif sehingga dirasa cukup objektif dan tidak ada maksud menggurui. Yang terpenting dari film The Buddha: The Story of Siddhartha ini adalah penekanan ajaran Buddha yang bukan terletak pada asketisme (penyiksaan tubuh sendiri secara berlebihan). Beberapa kali dititikberatkan bahwa menjadi Buddha adalah berarti menjalani kehidupan sebagaimana adanya, atau dalam istilah sang Buddha sendiri: Menerima bumi, bukan menolak apalagi menguasainya. Film ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang mau mengenal Buddha dan ajarannya untuk kali pertama.

Rekomendasi: Bintang Empat

Comments

Popular posts from this blog

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip