Skip to main content

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

30hari30film: Vanilla Sky (2001)



4 Ramadhan 1433 H
 
 

Vanilla Sky adalah film garapan Cameron Crowe yang merupakan remake dari film berbahasa Spanyol berjudul Abre los Ojos. Film ini diawali dengan kisah tentang eksekutif muda bernama David Aames (Tom Cruise) yang kehidupannya diwarnai kesuksesan baik dari segi uang maupun wanita. Hal ini berjalan lancar hingga akhirnya rasa cinta David terhadap Sarah Serrano (Penelope Cruz) berujung pada cemburu luar biasa dari Julie Gianni (Cameron Diaz). Kecemburuan itu berujung pada aksi nekat Julie yang menabrakan mobilnya ke pagar pembatas jalan hingga terlempar ke bawah jembatan. Dikisahkan di sana, Julie meninggal sedangkan David selamat namun mengalami kehancuran wajah dan lengan.

Cerita berikutnya menjadi mozaik yang membuat kita terheran-heran. Kadang wajah David digambarkan rusak, kadang utuh. Kadang kita melihat Sofia, lalu ia berubah menjadi Julie yang mengaku sebagai Sofia. Perubahan-perubahan cepat ini terjawab di akhir film, bahwa sebenarnya David tengah menjalani suatu program “perpanjangan usia” bernama Life Extension. Salah satu dari subprogram tersebut mempunyai sisi hiburan yaitu lucid dream. Apa gerangan lucid dream? Yaitu mimpi dimana kita dapat berkehendak, memutuskan apa yang mau diperbuat dan memeroleh konsekuensinya. Jadi apa yang dialami David, segala keanehan tersebut, adalah bagian dari keinginan-keinginan yang tersembunyi dalam alam bawah sadarnya. Seperti halnya menurut Freud, hasrat yang tak tercapai di alam bawah sadar, akan terekplisitkan kemudian dalam mimpi.

Sedari awal, film ini memang sudah menunjukkan gejala-gejala kejanggalan. Misalnya, film bermula dengan adegan David menyadari dirinya sendirian di tengah kota New York tanpa ada satupun manusia di sekitarnya. Meski di akhir cerita, pihak dari Life Extension sudah menceritakan apa yang terjadi pada David (Ingat bagaimana seorang psikiater menjelaskan keseluruhan misteri pada film Psycho-nya Alfred Hitchcock?), namun sutradara Cameron Crowe agaknya tetap mau membiarkan ada sedikit keheranan pada masing-masing benak penonton. Tetap saja menjadi misteri tentang dimana batas lucid dream yang dialami David: Apakah sejak 150 tahun lalu (Seperti terekplisitkan dalam suatu dialog)? Atau sejak David mengalami kecelakaan dengan Julie Gianni? Atau sejak awal keseluruhan film ini sudah tidak nyata?

Apapun itu, Vanilla Sky tetap merupakan sebuah film yang agaknya membuat kita punya kesan seperti menonton Truman Show: Ada sisi terhibur tapi sekaligus termenung-menung. Keduanya punya tema mirip-mirip, tentang bagaimana kecanggihan teknologi di suatu hari bisa membuat kita ketakutan. Tentu saja Life Extension bukan suatu proyek utopis karena gejala medis sudah semakin ke arah sana. Namun efek samping berupa lucid dream, yang isinya utopia tentang kehendak bawah sadar masyarakat modern yang idealismenya hanya seputar uang dan wanita, sungguh menciptakan alienasi yang berlapis. Vanilla Sky cukup sukses menyampaikan pesan ini.

Rekomendasi: Bintang Tiga Setengah

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip