Skip to main content

Lokasi Kebahagiaan

  Cari-cari film di Netflix, akhirnya jatuh pada Expedition Happiness . Dari posternya pun sudah agak-agak terbayang, bahwa film dokumenter ini kemungkinan mirip-mirip dengan Into the Wild (kisah petualangan menuju alam bebas, lepas dari rutinitas yang menjemukan). Ternyata meski punya kemiripan tema, Mogli dan Felix, pasangan yang melakukan perjalanan dalam Expedition Happiness , lebih santai dan masih mau bersosialisasi ketimbang Christopher McCandless dalam Into the Wild yang berupaya untuk jauh-jauh dari manusia. Expedition Happiness masih menunjukkan banyak sisi kemanusiaan dan juga kehewanan, sementara McCandless lebih menikmati hidup menyendiri.  Mogli dan Felix adalah pasangan asal Jerman. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Amerika Utara menuju Amerika Selatan, dimulai dari Kanada, Alaska, melewati beberapa negara di AS, Meksiko, dan rencananya hingga Argentina. Mereka berangkat bertiga bersama seekor anjing bernama Rudi menggunakan bis sekolah yang dimodifika

Heidegger, Ammy, dan Abaji

Hari Kamis tanggal 5 Juli kemarin, secara ajaib saya berjumpa dengan tiga orang yang berbicara hal yang sama. Mereka bertiga tidak saling kenal, dan perjumpaan kami pun dilakukan di tempat yang berbeda-beda.

Martin Heidegger

Perjumpaan pertama adalah dengan Martin Heidegger. Saya menemui ia lewat tulisannya yang sudah ditafsir ulang oleh Frans Budi Hardiman dalam bukunya: Heidegger dan Mistik Keseharian Filsuf yang lahir tahun 1889 ini bicara tentang manusia yang kerapkali lupa mempertanyakan Ada. Kita seolah yakin bahwa matahari ada di atas kepala kita, kita seolah yakin bahwa arisan pasti ujung-ujungnya bergosip, kita seolah yakin bahwa Alfamart adalah tempat dimana kapitalisme membuka cabangnya. Tapi semuanya adalah asumsi-asumsi yang dijejalkan pada kita, yang membuat kita enggan untuk melihatnya lebih jernih: Memerhatikan hingga Ada itu menceritakan siapa dirinya sesungguhnya. 

Ammy Kurniawan
Terlalu sulit memahami Heidegger? Itulah guna kehadiran Ammy yang saya temui setelahnya di Jalan Progo. Musisi asal Bandung ini mengajarkan saya hakikat improvisasi dalam musik: Biarkan musik itu bernyanyi di kepala kita untuk lalu kita tuangkan dalam instrumen. Bagaimana dengan tangga nada atau scale semacam blues, mixolydian, broken chord, dan tetek bengek syarat improvisasi lainnya? Ammy tidak mengatakan itu keliru, tapi segera setelah mengetahuinya: Tinggalkan. Seolah Ammy mau meneruskan Heidegger bahwa asumsi-asumsi scale itu membuat kita tidak sanggup melihat Ada dengan jernih. Padahal Ada itu kerapkali ingin menceritakan siapa dirinya sesungguhnya. 

Abaji

Saya merasa paham maksud Heidegger setelah jumpa Ammy. Tapi saya cukup diberi rejeki untuk bertemu Abaji, seorang musisi berdarah Armenia-Lebanon-Turki yang tampil di Auditorium IFI-Bandung sesudahnya. Abaji, sesudah ia konser dengan menyajikan permainan memikat dari instrumen-instrumen yang rata-rata dari Timur Tengah, ia menggelar diskusi dengan beberapa gelintir penonton. Ada yang bertanya, "Bagaimana bisa memainkan instrumen sedemikian banyaknya?" Abaji tidak menjawab dengan klise, misalnya dengan "belajar" atau "bekerja keras", ia cuma bilang, "Instrumen-instrumen ini yang berkata langsung pada diri saya bagaimana cara memainkannya." 

Baik Heidegger, Ammy, dan Abaji, -tiga orang dari kawasan Jerman, Bandung, dan Timur Tengah- semuanya memikirkan hal yang sama: Bahwa ada yang menampakkan diri di dunia ini, jika dan hanya jika kita tidak memikirkannya atau setidaknya mengotori pikiran-pikiran kita dengan asumsi dan kategori-kategori pemahaman yang dibuat sendiri. Sesungguhnya Ada (jika kita pinjam dulu bahasa Heidegger) memanggil-manggil kita, dan mereka yang terpanggil hanyalah mereka yang mau "berpikir dengan perasaan" atau Heidegger menyebut berpikir sebagai bukan kegiatan akal budi, melainkan "being intense with disclosure".  

Apa yang membuat kita begitu asing dengan Ada? Banyak hal, bisa ya itu tadi, kategori pemahaman yang kita buat dalam kepala sendiri, atau keseharian yang terlalu bising dan membenamkan kita pada palung tidak berdasar. Heidegger, Ammy, dan Abaji, menitipkan satu pesan yang sama: Jadilah pemula. Jadilah seolah-olah kita baru lahir ke dunia dan terpesona melihat segala sesuatu untuk pertama kali. Dalam keterpesonaan itu, sesungguhnya segala sesuatu menyingkapkan dirinya.


Comments

Popular posts from this blog

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1