Skip to main content

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

(Bioskop Alternatif) Bioskop Alternatif Berjasa Lahirkan Pemikir Film (5 dari 5)

*) Diambil dari artikel yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Teropong, 13 Februari 2017.

Sutradara yang kesulitan mendapat tempat di layar lebar, mempunyai kesempatan agar filmnya diputar di bioskop alternatif. Di Bandung, kesempatan itu salah satunya datang dari satu komunitas bernama Warung Film (sub-divisi dari komunitas Ruang Film Bandung) yang mengelola sebuah tempat di Jalan Banda, bernama Indi Sinema –terletak di gedung Bale Motekar lantai tiga-. Bekerjasama dengan UNPAD dan DILo (Digital Innovation Lounge), mereka kerap menjadi penyelenggara bagi pemutaran film dari para sutradara muda yang filmnya belum berhasil menembus pasar bioskop umum. 

Indi Sinema ingin agar tempat tersebut menjadi satu persinggahan bagi para sutradara yang menginginkan alternatif tempat pemutaran film yang tidak membutuhkan persyaratan serta perjanjian yang rumit. Menurut Rhisa, humas Indi Sinema, “Keberadaan kami adalah dalam rangka memberi ruang pemutaran film bagi para sutradara, sehingga setidaknya mereka menjadi lebih percaya diri sebelum memasuki respon pasar yang lebih luas.” Indi Sinema sendiri dibuat sedemikian rupa agar suasananya seperti bioskop pada umumnya: ada pendingin, layar lebar dan ruangan nyaris tanpa cahaya, serta tempat duduk nyaman. Hanya saja, kapasitasnya relatif kecil yaitu hanya terbatas sekitar lima puluh orang. Mereka mempunyai jadwal pemutaran rutin hampir sehari tiga kali dan hanya libur pada hari Senin. “Pemutaran akan terus dilakukan, meski tidak ada penonton,” kata Rhisa. Untuk beberapa pemutaran tertentu, Indi Sinema menarik semacam donasi bagi mereka yang menonton –donasi tersebut hanya kisaran sepuluh hingga lima belas ribu-. Dengan cara tersebut, selain menjadi jalan untuk menghidupi bioskop alternatif itu sendiri, mereka juga dapat memberikan separuhnya pada pembuat film. 

Beberapa film yang pernah diputar di Indi Sinema antara lain Urbanis Apartementus (2013), Karbon dalam Ransel (2014), Pulau Bintang (2014), Jelaga Asa Belantara (2016), dan Bendera (2016). Meski umumnya Indi Sinema memutar film-film yang belum mendapat kesempatan di gedung bioskop umum, tapi ada pula beberapa film yang statusnya “turun layar” atau pernah diputar di bioskop umum dan kemudian sudah selesai masa penayangannya. Mereka juga menerima pemutaran film untuk kategori lain, seperti film dokumenter panjang, film fiksi panjang, film edukatif, dan kompilasi film pendek. 

Namun secara umum, Indi Sinema menunjukkan dukungan serius terutama bagi perkembangan film-film dalam negeri yang menurut Rhisa, “Sangat berlimpah dan potensial, namun seringkali terhambat regulasi serta seleksi pasar yang terlampau ketat.” Dengan menggeliatnya bioskop alternatif seperti Indi Sinema ini, maka boleh kita berharap: Sutradara dalam negeri semakin produktif berkarya dan semakin tidak gentar dengan momok bernama pasar. Ketika film tersebut diapresiasi, maka konsekuensi positif akan datang dengan sendirinya, dan memberikan satu kepuasan tak ternilai bagi sang pembuat film. 

Ruang Film Bandung 
Indi Sinema dengan Warung Film sebagai pengelolanya, mungkin hanya sebagian kecil dari program komunitas Ruang Film Bandung yang memang sangat memberi perhatian bagi perkembangan film, khususnya film lokal. Selain pengelolaan bioskop alternatif, Ruang Film Bandung juga cukup rutin berkolaborasi dengan pihak-pihak lain untuk menyelenggarakan kegiatan. Misalnya, kerjasama dengan Telkom University untuk membuat kelas film pendek dengan durasi delapan pertemuan. Di akhir pertemuan, harus ada hasil berupa film yang kemudian diapresiasi secara bersama-sama. Selain itu, ada juga pelatihan produser film yang merupakan kerjasama dengan Dinas KUKM dan Perindag Kota Bandung serta even Bandung Youth Short Film Competitions (ajang penghargaan film untuk pemuda atau komunitas film di Bandung) yang bekerjasama dengan Dispora Kota Bandung. 

Mereka juga menggelar sebuah program bernama Klinik Film. Pada Klinik Film tersebut, diputar sekitar tiga film pendek untuk kemudian dikomentari dan dianalisis oleh tiga orang akademisi, pengamat, atau penikmat film yang sudah dipilih oleh panitia. Misalnya, bulan Oktober 2016 lalu, diputar tiga film pendek berjudul Senyum Sempit, Salam dari Anak-Anak Tergenang, dan Fashion Syndrome, dengan menghadirkan tiga analis yaitu Esa Hari Akbar, Vanny Rantini, dan Harry Reinaldi. 

Ina Khuzaimah, salah seorang pendiri Ruang Film Bandung, menyebutkan tentang visi misi komunitas ini, “Kami ingin membangun ekosistem sinema lokal, khususnya Bandung, agar terus menggeliat dan dapat bersaing dengan perfilman nasional atau bahkan mancanegara.” Ikhtiar semacam itu memang tidak pernah mudah dan kerap membutuhkan napas panjang. Kita, selaku masyarakat, turut andil dalam mendukung –termasuk mengawasi- sepak terjang Ruang Film Bandung agar terus konsisten memajukan ekosistem sinema lokal. Salah satu bentuk dukungannya bisa dimulai dengan mendatangi bioskop alternatifnya dan menjadi penonton yang tidak hanya apresiatif, tapi juga kritis.


Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip